img

Kartini dan Cita-citanya yang Berarti

Penulis: Admin | Terbit: 21 April 2021 | Dibaca: 369 kali

Dari mana aku mendapat peliput penguatkan hati? Ialah dengan sedikit-dikitnya memikirkan kepada diriku sendiri, dan sebanyak-banyaknya dan terutama sekali kepada orang lain.

(dikutip dari surat Kartini yang tiada diumumkan)

                Kartini lahir di Mayong, Jepara pada tanggal 21 April 1879. Karena ayahnya adalah seorang Bupati Jepara, Kartini dapat sekolah di sekolah Belanda, di Jepara. Namun, pada usia 12 tahun Kartini dipingit. Sebenarnya teman-teman Kartini yang juga orang Belanda ingin agar Kartini tidak dipingit. Tetapi keinginan itu tinggallah keinginan. Meskipun keluarga Kartini merupakan keluarga yang termaju di Pulau Jawa, namun orang tua Kartini memegang teguh adat dipingit. Kartini dipingit selama empat tahun. Pada usia 16 tahun Kartini diperbolehkan melihat dunia luar, walaupun hanya sesekali.

                Kartini adalah seorang yang suka belajar dia menyadari masih banyak pengetahuan yang harus dipelajarinya. Kartini ingin seperti kawan-kawannya, gadis-gadis Eropa untuk sekolah ke negeri Belanda. Tetapi jawaban ayahnya hanya satu kata “tidak”. Kartini merasa kesepian. Yang menjadi hiburannya kala itu adalah dengan membaca buku-buku bahasa Belanda dan menerima surat-surat dari kawannya, orang Eropa. Selain membaca, Kartini juga gemar menulis karangan dalam majalah dan surat kabar.

Kartini bercita-cita anak-anak perempuan bisa pandai dan kehidupannya setara dengan kaum pria. Pada tanggal 8 Agustus 1900 Kartini berkenalan dengan Mr. dan nyonya Abendanon yang berkunjung ke Jepara. Kartini yang keinginannya kandas untuk sekolah di negeri Belanda, setelah bertemu Mr. Abendanon, Kartini ingin sekolah guru di Betawi supaya dapat menjadi guru di sekolah anak gadis yang akan didirikannya nanti. Pada tahun 1902, Kartini berkenalan dengan Tuan van Kol dan istrinya, Nellie. Mereka sangat setuju dengan keinginan Kartini untuk belajar ke negeri Belanda. Mereka menjanjikan Kartini dan saudaranya, Rukmini, mendapat beasiswa di negeri Belanda. Namun, pada tanggal 25 Januari 1903 Mr. Abendanon menasihati Kartini supaya jangan belajar ke negeri Belanda karena akan merugikan cita-citanya. Kartini mengiyakan nasihat Mr. Abendanon. Dengan dukungan Mr. Abendanon, Kartini belajar di Betawi menjadi guru kemudian mendirikan sekolah sendiri bersama adiknya.

Pada 8 Nopember 1903 Kartini menikah. Kartini melahirkan anak laki-lakinya pada tanggal 13 September 1904 dan empat hari kemudian, 17 September 1904 Kartini meninggal dunia.

Membicarakan sosok Kartini berarti juga membicarakan buah pikiran dan upaya mewujudkan cita-citanya. Kartini memiliki pemikiran yang lebih maju dibandingkan dengan kaum wanita di jaman itu. Kartini kemudian menjadi inspirasi dan teladan kaumnya untuk melepaskan diri dari belenggu kebodohan dan ketidakadilan gender. Perjuangan dan cita-cita Kartini merupakan gambaran perjuangan dan cita-cita semua perempuan di negeri ini.

Kartini sangat menyadari pentingnya budi pekerti karena beranggapan bahwa orang yang cerdas belum tentu mempunyai budi pekerti yang baik. Sebagai pemikir, penggagas, dan pendidik, Kartini memiliki wawasan yang luas dan dalam, melintasi batas agama, gendder, budaya, habkan jaman. Tidak hanya ingin mencerdaskan kaum perempuan, ia juga bermaksud merintis pencerdasan anak-anak bangsa.

Meski usianya berakhir sangat muda, Kartini telah menjadi pembawa jalan serta menumbuhkembangkan banyak pejuang baru di bidang pendidikan. Bahkan, pengakuan kesetaraan laki-laki dan perempuan di Indonesia pada saat ini bisa dikatakan buah perjuangan Kartini. Cita-cita mulia Kartini menjadi impian hidupnya dan sumber kegembiraan. Namun, ketika ada perilaku yang tidak mewujudkan perjuangannya, Kartini akan berduka dan batinnya tersiksa.

Di hari Kartini ini, marilah kita terus belajar, bersikap baik, berbagi hal baik pada banyak orang untuk terus mewujudkan cita-cita Kartini yang sangat berarti bagi bangsa ini.

 

Sumber:

Pane, Armijn. 2006. Habis Gelap Terbitlah Terang. Jakarta. Balai Pustaka.