img

Pelangi Penaku: Kenangan Berharga

Penulis: Chanlina | Terbit: 10 Desember 2022 | Dibaca: 397 kali

"Terkadang, pertemuan dan perpisahan terjadi terlalu cepat. Namun kenangan dan perasaan tinggal terlalu lama." - Fiersa Besari -

Aku adalah murid kelas IX SMP, tepatnya di SMP Katolik Santo Petrus Jember. Dalam kegiatan Pramuka, aku merupakan salah satu anggota regu Sakura. 

Pada hari Jumat, aku dan teman-teman mengikuti kegiatan Perjusa, yaitu Perkemahan Jumat-Sabtu yang wajib diikuti oleh seluruh murid dari kelas VII hingga kelas IX di Seger Nusantara, Pakusari, Jember.

Saat itu, aku benar-benar tidak ingin mengikuti kegiatan Perjusa. Membayangkan harus membawa banyak barang-barang berat serta mengikuti berbagai kegiatan melelahkan di sana membuatku agak malas mengikutinya. 

 

Setelah tiba di tempat perkemahan, cuaca begitu panas. Sinar matahari bersinar cukup terik padahal waktu masih menunjukkan pukul sepuluh. 

Kami masih harus menata barang-barang di tenda yang sudah ditentukan dalam keadaan panas yang membuat nafas sesak. Aku bahkan tidak ingin lepas berteduh pada bayangan pohon rindang setelah sampai di area kemah. 

 

Sekitar satu jam sebelum tepat pukul dua belas siang, kami makan siang. 

"Hahh! K-kok pedes, ya?" tanya teman satu reguku, Livia. 

"Iya, kah?" tanyaku kembali. Aku memang menyukai makanan pedas. Jadi aku tidak merasa bahwa makan siang yang kami makan itu pedas. 

"Hmm, enggak kok," ujar Nixon dengan raut wajahnya kurang menyakinkan. Kedua teman yang duduk di sebelah kanan dan kirinya tertawa. 

Aku menggelengkan kepala lalu kembali menatap Livia, "Bawa minum, kan?"

"Bawa, bawa. Tapi mau habis, nih. Habis makan beli minum, yuk. Yang dingin." ajak Livia.

"Okeyy," jawabku sambil mengangguk.

 

Selepas makan, kami berdua membeli air minum dingin untuk menyejukkan diri. Sesudah waktu makan siang berakhir, aku dan teman-teman ku serta beberapa adik kelas kembali berteduh di bawah pohon. 

Aku menghela nafas lega karena air dingin itu benar-benar membuat rasa panas sedikit berkurang. "Bentar lagi upacara, kan?"

"Iya. Masa panas-panas gini upacara? Mendung dikit, kek," ujar Felincia, teman satu reguku selain Livia. 

"Huhh… bahkan udaranya sesak banget," kataku menimpali. 

 

Tak lama kemudian, terdengar suara dari alat pengeras suara yang meminta para murid untuk berkumpul di lapangan tepat di belakang pohon tempatku berteduh. 

Walau penuh keluhan, kami tidak bisa menolak upacara pembukaan. Selama beberapa menit kami masih mengatur barisan sesuai dengan regu masing-masing. 

Tanpa diduga, hujan rintik-rintik turun. Tidak ada perintah apapun, jadi kami masih tetap berdiri di posisi masing-masing. 

Namun perlahan hujan turun semakin deras dan kami mulai panik. 

 

"Eh, tenda udah ditutup belum?" tanya teman di sebelahku.

"Tenda? OH, IYA! EHH, TENDA WOYY! BASAH NANTI!" teriakku.

 

Hampir sebagian besar murid berlari menuju tenda masing-masing untuk menutup pintu tenda. 

Akhirnya para guru menyuruh murid yang tertinggal di lapangan untuk berteduh di joglo yang ada di depan Warung Seger. Kami pun melanjutkan upacara di sana. 

Waktu berlalu dan hujan tidak berhenti turun. Bahkan beberapa murid melapor bahwa tenda mereka ada yang mengalami kebocoran. 

 

"Eh, kata kakak pembina kita diminta untuk memindahkan barang ke sini. Banyak tenda yang bocor," kata Jesika. 

"Haruskah? Kan cuman buat yang tendanya bocor aja," kata Livia

Lisa berujar, "Hujan deres gini ya gak bakal ada tenda yang aman. Tadi aku mampir ke tenda kita juga bocor."

Aku mengangguk setuju dengan perkataan Lisa. "Iya. Di tepi-tepi tendanya banyak air menggenang."

"Ya udah, deh."

 

Kulihat ada teman lain yang memakai jas hujan, ada pula yang membawa payung, dan juga yang memakai keduanya ketika memindahkan barang masing-masing dari tenda yang sudah tidak lagi dapat menghalau hujan. 

 

Walau hujan seperti ini sedikit merepotkan, banyak dari kami yang bersenang-senang di tengah hujan. 

"Eh, kalian kok hujan-hujanan? Gak takut sakit?" tanyaku ketika aku melihat teman-teman dari regu lain bermain di tengah hujan. 

"Seru, loh. Ayo join sini!"

Aku tersenyum. "Nanti, deh. Aku mau bantu temanku yang barangnya ketinggalan di tenda," ujarku lalu berlalu pergi. 

"Eh, Hati-hati, Fel." Aku menahan lengan Felincia yang hampir terpeleset di halaman rerumputan yang terdapat dataran miring. Dataran miring itu lebih berbahaya lagi ketika hujan seperti ini. 

"Ihh, aku cuman minta mendung, gak hujan kayak gini!" teriaknya kesal. 

Aku tertawa, "Hahaha, tapi seru, kan?"

"Dih, seru darimana?! Tapi… mending daripada panas-panasan," jawabnya sambil tertawa.

Aku menggelengkan kepala lalu menemani Felincia pergi mengambil barang-barang yang yang masih tertinggal di tenda. 

 

Setelah kami semua kembali ke joglo, kami menuju kamar mandi untuk membersihkan diri setelah terkena air hujan supaya tidak masuk angin.

 

Sekitar dua jam berlalu, dan kami semua masih terjebak di joglo karena hujan masih turun begitu derasnya. 

 

Ketika waktu makan malam tiba pada pukul enam malam, untunglah hujan tak sederas sebelumnya bahkan sudah hampir sepenuhnya berhenti. 

Karena itu, jadwal kami untuk acara api unggun dan penampilan seni setiap regu akan berjalan pada pukul tujuh malam nanti. 

Reguku akan menampilkan penampilan kami di halaman di depan barak inap para regu putra. 

 

Beberapa nama regu yang dipanggil sebelum reguku menampilkan penampilan yang bagus. Bahkan karena sebelum kegiatan Perjusa sudah banyak regu yang berlatih, maka kami sudah mengetahui sebagus apa pertunjukan mereka nanti. Bahkan sudah ada beberapa kandidat yang dipastikan sebagai pemenangnya.

 

"Selanjutnya penampilan oleh regu Sakura!" kata Kak Sona selaku pembawa acara.

Suara tepuk tangan terdengar, tapi rasa gugup membuatku tuli. Aku hanya berharap untuk tidak melakukan kesalahan yang dapat mengacaukan hasil latihan bersama selama ini. 

Karena sebenarnya, ada beberapa konflik yang terjadi di antara reguku hingga waktu latihan benar-benar terbuang banyak. Kami hanya dapat berlatih empat hari sebelum waktu Perjusa. 

 

Setelah tampil, kami kembali ke posisi duduk masing-masing. Beberapa anggota reguku berkata bahwa mereka melakukan beberapa kesalahan. Ada yang bahkan hanya diam setelah selesai tampil. 

Aku tidak tahu harus berbuat apa selain menyemangati mereka dengan caraku sendiri. 

"Gak apa-apa, kok. Yang penting kita udah selesai tampil, kan. Kita udah latihan sebaik mungkin dan berhasil menyelesaikan penampilan sampai akhir," kataku untuk menyemangati teman-teman.

"Udah, ya. Jangan murung terus!"

Aku tidak tahu apakah hiburanku berefek sesuatu, yang bisa kulakukan hanya ini. 

Namun penampilan berikutnya dari banyak regu lain ada yang mengundang tawa serta tepuk tangan meriah. Begitu juga dengan acara renungan malam yang membawa banyak pengajaran penting bagi kami. 

 

Sebagai penutup, api unggun berhasil menyala terang melawan lembabnya hujan. 

 

Malam itu, rasa lelah memang luar biasa menemani, namun banyaknya pengalaman baru membuat bibirku tersenyum senang. Ya, setidaknya malam itu, kami bisa tertidur nyenyak dan siap bangun pada keesokan paginya dengan semangat baru untuk melakukan kegiatan penjelajahan yang ditunggu oleh banyak murid. 

 

Keesokan paginya, kami melakukan senam pagi bersama dilanjutkan sarapan kemudian mulai membersihkan diri. 

 

Nah, kini saatnya kegiatan yang ditunggu-tunggu, penjelajahan pun dimulai. Waktu masih menunjukkan pukul delapan tapi mentari memang tak bosan menyambut pagi dengan sinarnya yang kelewat hangat.

Ada lima pos yang harus kami lalui. Bersyukur semua pos dapat reguku lewati dengan baik. Kami berusaha semaksimal mungkin dengan harapan menjadi pemenang. 

"Lihat, ini nilai-nilai kita lumayan, loh. Siapa tau kita bisa menang? Setidaknya juara 3, gitu?" kata Jesika Liem. 

Angel sebagai ketua regu Sakura menimpali, "Iya, loh. Gak nyangka nilai-nilainya bagus. Jadi berharap kita."

 

Setelah kegiatan penjelajahan berakhir, kami kembali membersihkan diri untuk persiapan upacara penutup. 

 

Aku sempat kehilangan celana pramuka yang akan aku gunakan untuk upacara penutup nanti. Aku menanyakannya pada pembina dari reguku.  Kak Tituk membantuku mencarinya.

Sayangnya, saat upacara penutup berlangsung, celana pramukaku belum juga ditemukan tapi Kak Tituk dengan baik hati terus membantu mencarinya. 

Akhirnya, kami tetap melaksanakan upacara di Joglo dalam keadaan banyak murid yang memakai pakaian apa adanya. Ada yang memakai pramuka, ada yang memakai olahraga, ada pula yang memakai baju bebas. Memang, hujan kemarin membuat banyak baju jadi basah. 

 

Di akhir upacara penutup, panitia perkemahan mengumumkan pemenang dari lomba pertunjukan seni semalam. 

Dan yang mengejutkan adalah reguku menjadi juara ke-2 untuk pertunjukkan seni antar regu. Aku tidak bisa berhenti tersenyum melihat berbagai macam reaksi dari anggota reguku. Sayangnya, kami tidak menang untuk juara perkemahan. 

 

Ketika Perjusa benar-benar berakhir, tanpa kusadari hujan kembali turun. Momen-momen membahagiakan selama dua hari satu malam ini ternyata terlalu singkat. 

Walau ada beberapa kesulitan yang dihadapi, aku menyadari bahwa semua kesulitan itu menguap ketika aku bersama dengan teman-teman. 

 

Tidak ada kesempatan kedua. Perkemahan ini adalah yang pertama dan terakhir di masa SMP-ku yang berharga. Aku berharap agar kenangan ini terus ada hingga aku dan teman-temanku tak lagi bersama. 

 

Kenangan itu sulit diabadikan, sebab ingatan itu terbatas dan potret itu mudah hilang. Namun dunia sudah melihat semuanya. Ia telah mengukir jejak kenangan berharga kita hingga akhir nanti.