img

Setiap Manusia adalah Baik

Penulis: Admin | Terbit: 28 September 2020 | Dibaca: 291 kali

Tulisan ini dibuat berdasarkan opini pribadi dari penulis. Sehingga tulisan yang disuguhkan bukan dari kajian ilmiah yang teruji dalam sidang akademik, bukan pula karya adi luhung yang telah dipatenkan dan telah dikenal oleh masyarakat luas. Tulisan ini hanyalah hasil olah rasa serta pikiran yang bersumber dari penulis sendiri.

Dikarenakan ini berawal dari sebuah pemikiran baru dalam tatanan wacana yang belum bisa dibuktikan secara ilmiah, maka opini ini dapat dikategorikan dalam sebuah filsafat. Walaupun dalam proses mengolahannya dapat dipastikan ada pengaruh dari pihak luar, baik melalui membaca tulisan orang lain, ceramah pemuka agama bahkan diskusi bersama teman atau kelompok, namun pada dasarnya awal terwujudnya tulisan ini dari pendapat pribadi.

 

Setiap Manusia adalah Baik” merupakan sebuah asumsi (premise) yang sangat cocok diperdebatkan bahkan dibantah jika dicerminkan dengan kondisi realita yang terjadi. Sring kita melihat, mendengar dan merasakan adanya oknum yang berperilaku tidak baik. Memang sih, kehidupan nyata sangat kontradiktif jika kita benturkan secara langsung dengan opini yang saya kembangkan dalam tulisan ini. Namun, jika kita telaah sedikit lebih jauh ke dalam pribadi-pribadi yang melakukan perbuatan tidak terpuji tersebut, maka kita akan mendapat berbagai macam alasan pembenar yang mendasari tindakan mereka. Contohnya, seorang pencuri sering mengatakan bahwa perbuatan tersebut dilakukan karena harus menafkahi keluarganya. Mari kita tarik kata memberi nafkah keluarga yang berarti memberi nafkah kepada anak dan istri dan hal itu merupakan suatu perbuatan baik. Namun apakah hal tersebut  hanya sekedar alasan pembenar atas perbuatan si pencuri atau memang sebuah keterpaksaan karena tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh untuk sekedar mencari sesuap nasi demi istri dan si buah hati?

Tak hanya pencuri, seperti pembunuh, teroris atau bahkan para koruptor pasti memiliki setumpuk alasan yang tentunya bernada baik sebagai alasan pembenar atas perbuatan yang mereka lakukan.

Saya juga mencoba mengutip beberapa kalimat dari Medical Daily yang mengarah kepada alasan mereka melakukan perbuatan tidak baik tersebut, yakni sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yale University yang mengungkapkan bahwa semua orang sesungguhnya memiliki hati yang baik. Dalam penelitian tersebut juga disebutkan bahwa insting yang dimiliki sejak lahir oleh manusia sebenarnya telah mengarahkan seseorang untuk terus berbuat baik. Jadi, ketika seseorang ternyata melakukan hal-hal yang tidak baik, itu artinya dia melawan instingnya sendiri.

Maka, dari berbagai alasan yang dikemukakan oleh mereka (manusia yang berbuat tidak baik) semakin memperkuat keyakinan saya bahwa pada dasarnya semua manusia itu baik. Semua faktor yang memengaruhi seseorang untuk berbuat tidak baik merupakan sebuah pilihan bukan suatu kewajiban atau keharusan. Tatkala seseorang sampai pada saat pertama kali mengambil keputusan untuk melakukan langkah yang tidak baik tersebut dapat dipastikan terjadi sebuah perang batin dalam dirinya untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan tercela tersebut. Jika perbuatan tersebut dilakukan berulang-ulang dengan penuh kesadaran, dapat dipastikan hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan. Jadi, berhati-hatilah saat menentukan pilihan dan jangan lupa untuk selalu mengikutsertakan kata hati (insting), karena selalu ada konsekuensi logis dari setiap pilihan yang kita ambil.

Semoga kita semua selalu memilih jalan terbaik yaitu menjadi manusia yang baik dan berguna bagi banyak orang tanpa harus merugikan orang lain.